“Semua orang tua pasti
mau yang terbaik untuk anaknya.”
Buat kalian yang udah pernah terlibat percakapan dengan
orang tua kemudian ujung-ujungnya menyanggupi kemauan mereka, pasti nggak asing
lagi dengan kalimat barusan.
Gue pun demikian.
Sudah puluhan kali gue berada dalam situasi dimana gue,
‘mau-nggak mau’ harus menuruti apa yang dikatakan orang tua. Mulai dari pilihan
sekolah, jurusan, bahkan kuliah yang membawa gue ke pekerjaan gue nanti.
Hingga detik ini, gue kadang masih suka nggak
nyangka kalau gue adalah seorang Arsitek. Suatu pekerjaan yang menurut gue
‘terlalu keren’ untuk manusia moody-an kayak gue. Bukannya nggak bersyukur, tapi gue sendiri heran
kenapa gue nggak pernah fokus kalau ada tugas atau apapun yang menyangkut
kerjaan gue sebagai Arsitek. Karena sejujurnya, passion gue bukan disini.
Walaupun sudah sering dikuatkan dengan kalimat, “Jalanin aja
dulu, nanti juga kamu terbiasa.”, tetep aja tiap kali nugas, gue selalu nggak
pernah dapat feel-nya. Gue lebih
senang duduk berjam-jam depan laptop sambil ngetik naskah, baca ini itu, dan
nonton sesuatu sambil brainstorming untuk bahan tulisan.
Di satu sisi, gue nggak mau ngecewain orang tua gue.
Gue tahu, gue punya tanggung jawab yang besar sebagai
seorang anak. Terlebih lagi, gue adalah anak sulung, yang semua manusia juga
tahu kalau anak sulung harus menjadi contoh yang baik untuk adiknya. Gue
dituntut harus selalu ngelakuin sesuatu yang berguna.
Hidup gue, seolah sudah
diatur sedemikian rupa.
Ada satu hari dimana gue mulai mempercayai suatu hal, bahwa, kita hidup, buat nurutin kemauan orang lain. Tepat di hari pengambilan rapor kelas 1 SMA. Beberapa
hari sebelumnya, para wali kelas membagikan selembar kertas kepada setiap murid. Di kertas tersebut, kita diminta untuk menuliskan jurusan apa yang bakal diambil; IPA atau IPS.
Gue, dengan semangat dan pilihan mutlak dari hati, menulis
besar-besar huruf “I-P-S” pada selembar kertas tersebut. Karena memang, gue sadar gue nggak pernah
tertarik dengan yang namanya angka. Ketika tiba hari pengumuman kelas baru, gue kaget karena
nama gue nggak ada di daftar kelas IPS. Tiga kali mondar-mandir di deretan kelas buat mastiin kali aja ada yang salah, dan ternyata nama gue emang
nggak ada.
Pas balik ke kelas dengan niatan mau nanya ke wali kelas, gue hanya melihat ada Ayah dan wali kelas gue tersebut lagi
ngomongin sesuatu. Gue duduk sambil nunggu di koridor sekolah. Nggak sampai
sepuluh menit, mereka pun keluar, mengajak gue bicara.
Ternyata, nama gue sengaja dipindahin ke IPA, atas perintah
dan kemauan Ayah. Sekeras apapun keinginan gue buat nolak, Ayah tetap nggak bakal
ngizinin dan malah bilang,
“Kamu mau jadi apa nanti?”
In the end, gue cuma
bisa pasrah dan nangis sampai pulang.
Kejadian itupun terulang secara terus-menerus. Setiap kali ngeluh, ujung-ujungnya yang bisa gue lakuin hanyalah
pasrah dan pasrah.
Lalu gue merenung kembali.
Ini semua, mungkin nggak akan terjadi kalau gue bisa biayain hidup gue sendiri.
Dan, karena gue tahu, setiap gue bikin postingan pasti dibaca
sama Ayah (yang kemudian dia bakal nelfon si Nyokap biar ngomelin gue), gue cuma
pengen mereka tahu kalau..
Seandainya saja
semuanya nggak kaya gini.
Seandainya waktu itu gue punya duit sendiri, gue nggak bakal minta orang tua gue untuk
repot-repot biayain kuliah gue.
Seandainya gue punya duit sendiri, gue nggak bakal susah-susah
merjuangin apa yang sebenernya bukan jadi bidang gue.
Seandainya gue bisa milih.
Seandainya gue bisa jadi diri sendiri.
Seandainya gue nggak harus belajar dibawah tekanan kayak gini.
Seandainya.”
Yah, intinya gitu, deh. Gue
sadar, ini semua mungkin nggak akan ngerubah apa yang udah terjadi. Anggap aja
gue cuma butuh temen cerita, dan tulisan ini bisa jadi curhatan setiap waktu,
atau setiap gue nggak mood sama
kerjaan lagi.
Jujur aja, sampai kalimat terakhir dari
tulisan ini, huruf demi huruf yang gue ketik, ada perasaan sedih yang sudah
lama tersimpan. Jauh sebelum gue duduk dan membuat tulisan ini.
Apalah daya, gue cuma cewek Arsitek berhati sastra.